Program Teluk Tomini | SUSCLAM

 
 

Warning: Parameter 1 to plgContentJA_tabs::onPrepareContent() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/event.php on line 67

Warning: Parameter 1 to plgContentPlg_JAThumbnail::onPrepareContent() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/event.php on line 67

Warning: Parameter 1 to botJoomfishAlternative() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136

Warning: Parameter 1 to plgContentSIGPlus::onPrepareContent() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/event.php on line 67

Warning: Parameter 1 to plgContentSexyBookmarks::onPrepareContent() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/event.php on line 67

Warning: Parameter 1 to plgContentEmailCloak() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136

Warning: Parameter 1 to plgContentLoadModule() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136

Warning: Parameter 1 to plgContentPagebreak() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136

Warning: Parameter 1 to plgContentJA_tabs::onPrepareContent() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/event.php on line 67

Warning: Parameter 1 to plgContentPlg_JAThumbnail::onPrepareContent() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/event.php on line 67

Warning: Parameter 1 to botJoomfishAlternative() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136

Warning: Parameter 1 to plgContentSIGPlus::onPrepareContent() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/event.php on line 67

Warning: Parameter 1 to plgContentSexyBookmarks::onPrepareContent() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/event.php on line 67

Warning: Parameter 1 to plgContentEmailCloak() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136

Warning: Parameter 1 to plgContentLoadModule() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136

Warning: Parameter 1 to plgContentPagebreak() expected to be a reference, value given in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/libraries/joomla/event/dispatcher.php on line 136
 

Tomini Bay Sustainable Coastal and Livelihoods Management


Meningkatkan pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir Teluk Tomini dalam upaya memperbaiki tingkat penghidupan masyarakat pesisir, laki-laki dan perempuan

 
 
 
 
 
 

Program Teluk Tomini | SUSCLAM


Warning: The magic method __set() must have public visibility and cannot be static in /home/tominiba/public_html/teluktomini.org/web/plugins/content/sigplus/params.php on line 75

Mangrove Rusak Parah, Pencegahan Belum Nyata

Kompas.com | Rabu, 20 Februari 2013 | 10:19 WIB | sumber http://sains.kompas.com/read/2013/02/20/10193991/Mangrove.Rusak.Parah.Pencegahan.Belum.Nyata

JAKARTA, KOMPAS.com - Cagar Alam Tanjung Panjang di Gorontalo mengalami kerusakan masif pada ekosistem hutan mangrove. Lebih dari 75 persen kawasan terlindungi itu digunakan sebagai tambak.

Aktivitas ini bertahun-tahun dan hampir tidak ada tindakan tegas penegak hukum ataupun Kementerian Kehutanan. Dari luas CA Tanjung Panjang 3.000 hektar, sejumlah 2.500 ha dibuka untuk tambak (Kompas, 19/2/2013).

”Enam anggota DPRD Kabupaten Pohuwato dan Dinas Kehutanan diskusi dengan kami terkait kondisi itu,” kata Bambang Dahono Aji, Direktur Konservasi Kawasan dan Bina Hutan Lindung Kementerian Kehutanan, Selasa (19/2/2013), di Jakarta.

Kementerian Kehutanan siap membebaskan CA Tanjung Panjang dari aktivitas tambak. Kemhut melalui Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Sulawesi Utara meminta Ditjen Planologi memprioritaskan rekonstruksi batas cagar alam, hutan lindung, dan area peruntukan lain di Tanjung Panjang.

”Kami ingin batas jelas. Tahun ini dilakukan. Kalau sudah jelas batas, aktivitas tambak harus distop. Kalau ngeyel, oknum atau pemberi modal harus dilibas, kami operasi,” kata dia.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Abdul Halim mengatakan, perusakan mangrove berpotensi di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. ”Investor tambak masuk untuk membuka 7.000 hektar hutan mangrove,” kata dia.

Tambak merupakan budidaya yang tidak berlangsung lama. ”Setelah tak menghasilkan, lahan ditinggalkan tak terurus. Akhirnya terjadi abrasi dan intrusi air laut yang merugikan,” kata dia.

Kondisi di Padang

Di Padang, Sumatera Barat, kerusakan kawasan mangrove juga meluas. Di antaranya melanda sekitar 25 ha hutan mangrove di wilayah Aie Bangis, Pasaman Barat, untuk pembangunan pelabuhan minyak sawit mentah.

Salah satu penyebabnya, soal koordinasi. ”Pengelolaan kawasan hutan mangrove di Dinas Kehutanan, sementara pemanfaatannya di Dinas Kelautan dan Perikanan,” kata Ketua Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Bung Hatta, Eni Kamal.

Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Hendri Octavia saat dihubungi mengatakan, lima tahun terakhir tak ada permohonan izin baru penggunaan hutan mangrove. Adapun untuk pembangunan pelabuhan di Pasaman Barat, menurut dia, tidak sampai menggunakan kawasan hutan mangrove. (ICH/INK)

Sumber : Kompas Cetak  | Editor : Yunan

Mangrove Kian Terdesak

Kompas.com | Selasa, 19 Februari 2013 | 04:08 WIB | sumber http://sains.kompas.com/read/2013/02/19/04084798/Mangrove.Kian.Terdesak

Gorontalo, KOMPAS - Alih fungsi hutan mangrove menjadi tambak di Cagar Alam Tanjung Panjang, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, kian merajalela. Dari 3.000 hektar luas cagar alam, sekitar 2.500 hektar kini menjadi tambak. Pemerintah Kabupaten Pohuwato berencana merelokasi tambak tersebut ke tempat lain.

Hamparan tambak udang dan ikan bandeng tampak terlihat di kawasan Cagar Alam Tanjung Panjang. Tambak itu mulai muncul sejak tahun 1980-an dan makin merajalela pada awal 2000. Kini hanya sedikit yang tersisa berupa hutan mangrove. Fungsi ekologi di cagar alam tersebut nyaris tidak ada.

”Alih fungsi hutan mangrove menjadi tambak di Cagar Alam Tanjung Panjang sudah berlangsung lama dan ini membuat kami kewalahan. Namun, pemerintah daerah berkomitmen untuk merelokasi tambak tersebut ke lokasi lain yang belum ditentukan. Rencana relokasi itu akan dimulai tahun ini,” ujar Kepala Dinas Kehutanan, Pertambangan dan Energi Kabupaten Pohuwato Djoni Nento, Senin (18/2).

Selain di kawasan cagar alam, kata Djoni, tambak juga banyak terdapat di kawasan hutan lindung di Kabupaten Pohuwato. Khusus tambak di hutan lindung, Pemerintah Kabupaten Pohuwato akan mengusulkan perubahan alih status hutan lindung menjadi hutan kemasyarakatan.

”Hal itu sebagai langkah agar masyarakat bisa memanfaatkan kawasan yang saat ini berstatus hutan lindung untuk kegiatan perekonomian,” ujar Djoni.

Aktivis lingkungan di Gorontalo, Rahman Dako, mengatakan, rusaknya mangrove menjadi tambak di Cagar Alam Tanjung Panjang karena pemerintah daerah tidak memiliki komitmen melestarikan lingkungan. Selain itu, ada kecenderungan alih fungsi itu dibiarkan. Padahal, sudah jelas bahwa kawasan cagar alam tidak boleh ada kegiatan alih fungsi, apalagi jadi tambak yang jelas-jelas membabat habis hutan mangrove.

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Pohuwato, Iwan Abai, mengungkapkan, merajalelanya alih fungsi hutan mangrove menjadi tambak belum memiliki landasan hukum yang jelas. Sampai sekarang, rancangan peraturan daerah tentang alih fungsi mangrove sedang disusun.

Salah satu pokok bahasan dalam rancangan peraturan daerah tersebut adalah melarang alih fungsi mangrove jadi tambak.

Cagar Alam Tanjung Panjang ditetapkan statusnya oleh Menteri Kehutanan pada 1995 dengan luas kawasan 3.000 hektar. Cagar alam yang berbatasan langsung dengan laut Teluk Tomini itu jadi habitat burung maleo, burung langka dan endemik Sulawesi.

Budidaya kerapu

Sekitar 24 hektar kawasan hutan mangrove di Nagari Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dalam kondisi rusak. Prakiraan luasan itu disampaikan pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Padang, Eni Kamal, Senin.

Ia mengatakan, kerusakan itu menyusul sedimentasi akibat pembangunan badan jalan baru di sepanjang lokasi tersebut. Adapun luas total hamparan hutan mangrove di lokasi itu sekitar 96 hektar.

Menurut Eni, rusaknya hutan mangrove di kawasan itu mengancam budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung yang tengah dikembangkan di wilayah tersebut. ”Karena tidak ada filter alami untuk menyaring sedimen ke keramba dan tidak adanya lagi tambahan makanan alami bagi ikan,” katanya.

Dalam buku Ekologi Hutan Bakau yang disusun Eni Kamal (2008), hutan bakau yang jadi salah satu penyusun kawasan mangrove berperan penting untuk pengembangan industri perikanan di pesisir pantai dan muara. Serasah bakau yang diproduksi menjadi penyedia penting nutrisi bagi biota laut.

Eni menambahkan, selain budidaya ikan kerapu, dilakukan pula budidaya rumput laut di kawasan itu. ”Saat ini pada rumput laut sudah ada kematian,” katanya.

Semestinya, kata Eni, pembangunan jalan dilakukan dengan menggunakan teknologi tertentu untuk meminimalkan dampak kawasan perairan. Itu di antaranya bisa dilakukan dengan penggunaan sediment trap untuk mencegah guguran sedimen.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Yosmeri saat dihubungi mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai pengaruh sedimentasi itu terhadap budidaya ikan kerapu. Namun, ujar Yosmeri, jika terjadi sedimentasi, dampak tersebut sudah akan terjadi pada kondisi terumbu karang. (APO/INK)

Mangrove Perlu Dilindungi.

BLOCK PLAN : Salah satu persoalan yang pertlu ditindak lanjuti oleh semua elemen yakni tentang perlindungan terhadap hutan mangrove. Dengan adanya hal  tersebut, maka badan Legislasi (Banleg) melakukan perubahan terhadap Ranperda Pesisir dan Pengelolaan Pulau-pulau kecil, yang terfokus pada upaya penyelamatan hutan mangrove di Pohuwato.

Iwan Abay salah seorang anggota Banleg menjelaskan, untuk  menyelamatkan hutan mangrove, maka segenap unsure yang terdiri dari Banleg, pemerintah daerah, masyarakat, tim Pokja, SUSCLAM dan lain sebagainya turut terlibat dalam perubahan Ranperda yang lebih focus terhadap hutan mangrove.

selain itu kata Iwan, untuk menindak lanjuti hal tersebut, maka pihaknya telah memantapkan lagi Ranperda yang berisi perlindungan kawasan mangrove, hanya saja kalau sebelumnya Ranperda yang diusulkan berisi tentang kawasan pesisir dan pengelolaan pulau-pulau kecil, kali ini Ranperda diubah menjadi Ranperda Perlindungan dan Pengelolaan Mangrove, dengan tujuan dalam penerapannya nanti, Ranperda itu akan lebih focus pada perlindungan kawasan mangrove. “Ranperda tersebut selanjutnya tinggal lanjuti oleh Badan Legislasi,” ujarnya.

Read more

Perikanan dan KelautanTerus Ditingkatkan

TILAMUTA – Untuk menunjang perekonomian masyarakat, Pemerintah Kabupaten Boalemo terus mengembangkan program perikanan dan kelautan. Hal ini pula untuk mendukung suksesnya Sail Teluk Tomini 2013 yang digagas para kepala daerah yang berada dikawasan Teluk Tomini, pekan lalu di Kota Palu, Sulawsi Tengah.

Bupati Iwan Bokings, mengatakan, saat ini Boalemo terus menigkatkan program perikanan dan kelautan untuk mendorong perekonomian masyarakat. Program yang telah digalakkan diantaranya, pengembangan perikanan tangkap, pengembangan budidaya dan hal –hal lain untuk menggenjot ekonomi masyarakat lewat sector perikanan dan kelautan.

Read more

Pertemuan Pokja Mangrove, Bupati Titip Salam

MARISA – Bupati Syarif Mbuinga menitipkan salam kepada seluruh Kelompok Kerja Mangrove (Pokja) Mangrove untuk menjaga kelestarian Mangrove yang ada di Provinsi Gorontalo, khususnya di wilayah Pohuwato.

“Mangrove perlu dilestarikan. Disamping bermanfaat bagi manusia, mangrove juga merupakan tempat berkembang biaknya ikan dan habitat lainnya”, ujar Syarif saat membuka pertemuan Pokja Mangrove Boalemo – Pohuwato, Kamis (15/12) kemrin. Kata Syarif, pelestarian mangrove merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah maupun masyarakat dan juga senantiasa menjalin hubungan terutama dengan LSM pemerhati lingkungan.

Diakuinya sebagian besar kawasan mangrove sudah rusak akibat pembuatan tambak, “Di Pohuwato kondisi ini sangat memprihatinkan, sehingga melalui kegiatan ini mari kita semua sepakat untuk menghijaukan kembali mangrove dan hutan lindung yang sudah rusak”, kata Syarif. Selain itu, Syarif mengakui bahwa pengrusakan mangrove di daerah sudah disoroti oleh masyarakat dunia.

Read more

Sail Tomini 2013 Sejahterakan Rakyat

GORONTALO – Rencana bersama pemerintah 3 Provinsi yakni Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi tengah untuk mengadakan kegiatan Sail Tomini 2013 nanti mulai dimatangkan dalam sebuah Workshop “Menggagas Sail Tomini 2013” dengan tema Pengelolaan Kawasan Teluk Tomini Berbasis Untuk Kesejahteraan Rakyat.

Pekan lalu selama tiga hari, Selasa-Kamis (6 – 8 / 12), perwakilan pemerintah daerah dari 3 provinsi dan 15 kabupaten/kota dalam kawasan Teluk Tomini serta perwakilan pemerintah pusat seperti Bappenas, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, duduk bersama untuk untuk membahas rencana kegiatan tersebut.

Read more

Ranperda Pesisir Jadi Ranperda Perlindungan Mangrove

MARISA –Pembahasan ranperda pesisir dan pengelolaan pulau-pulau kecil, akhirnya direvisi sebelum disahkan. Revisi ranperda itu lebih focus pada upaya penyelamatan hutan mangrove di Pohuwato.

Iwan Abay salah seorang anggota banleg yang juga ketua Pokja Mangrove menjelaskan, pihaknya sudah lebih memantapkan lagi ranperda yang berisi perlindungan kawasan mangrove, hanya saja kalau sebelumnya ranperda yang diusulkan berisi tentang kawasan pesisir dan pengelolaan pulau – pulau kecil, kali ini ranperda tersebut dirubah menjadi ranperda perlindungan dan pengeleloaan mangrove, dengan tujuan dalam penerapannya nanti, ranperda itu akan lebih focus pada perlindugan kawasan mangrove.

Read more
 
 
 
 
 
 
  • Stackholder

  • Local Organizational Partners

Stackholder

CIDA (Canadian International Development Agency), IUCN (International Union for Concervation of Nature & Natural Resources) Regional Office Asia-Bangkok, Lestari Canada dan Wetland International Indonesia Programme.

Stackholder

Japesda Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam, Yasalu Yayasan Pusaka Uwelutu, dan Fasilitator Desa Bolmong Selatan

 
 
 

Polling

Do you agree with the construction of the canal equator?




Results

Who's Online

We have 3 guests online

Online Support

Program Teluk Tomini adalah Program Pengelolaan Pesisir dan Penghidupan Masyarakat di Teluk Tomini.